Wakil Ketua MPR RI E.E. Mangindaan menyampaikan sosialisasi Empat Pilar MPR di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sulawesi Utara, Rabu (8/6). Dalam menyampaikan materinya, Mangindaan mengawali dengan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Diantaranya adalah masih lemahnya penghayatan agama, pengabaian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme daerah. “Dalam amandemen, sudah ada otonomi daerah. Tetapi masih timbul fanatisme daerah seperti tampak dalam Pilkada. Ini artinya fanatisme kedaerahan masih tinggi,” tutur Mangindaan yang juga merupakan putra asli Sulawesi Utara. Mangindaan juga menjelaskan bahwa tantangan lain adalah kurang berkembangnya penghargaan pada ke-Bhinnekaan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku pemimpin, masih terjadinya diskriminasi, dan masalah penegakan hukum. Gubernur Sulut periode 1995-2000 itu kemudian menguraikan tentang Pancasila sejak pidato Bung Karno di sidang BPUPKI pada 1 juni 1945 hingga pengesahan UUD pada 18 Agustus 1945. “Pancasila sudah final dan mengikat dan tidak bisa diutak-utik lagi. Ini yang sering belum dipahami sehingga MPR terus melakukan sosialisasi Empat Pilar. Kalau tidak hafal Pancasila, bagaimana mau mengimplementasikan?” papar Mangindaan. “Pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila yang sebenarnya adalah pidato Bung Karno. ide pertama Pancasila oleh Bung Karno. Tapi isi Pancasila adalah seperti tertera dalam UUD yang disahkan 18 Agustus, jadi harus dimaknai sebagai satu kesatuan. Pancasila yang kita anut adalah Pancasila pada 18 Agustus, meski Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni,” demikian Mangindaan.